Program Tabungan 5 Tahun

Saat ini keadaan ekonomi Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, namun bersamaan dengan itu ternyata pergerakan ekonomi saat ini sering tidak seimbang antara kenyataan dan kebutuhan. Saat ini banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dibeberapa perusahaan baik yang berskla kecil, maupun besar. Hal ini terjadi akibat dampak ekonomi yang tidak stabil.

Saat ini kondisi nilai tukar rupiah terhadap dollar terus terjun bebas, sehingga berpengaruh pada keberlangsungan investasi di negara ini. Semakin banyak investor yang meninggalkan negara ini, maka berdampak semakin besar jumlah PHK, sehingga pengangguran kian bertambah. Pada akhirnya berdampak pada masa depan anak-anak mereka yang terkena PHK tersebut.

Iklan-madu

Sebagai manusia kita tidak tahu apakah kita masih bisa bekerja hingga 10 tahun yang akan datang, ataukah besok giliran kita yang terkena PHK. Oleh karenanya, dalam rangka mengantisipasi hal tersebut alangkah bijaknya jika kita sudah mulai berfikir akan masa depan. Apa yang bisa kita siapkan untuk masa depan ? sudahkah kita memiliki tabungan yang cukup untuk pendidikan putera-puteri kita dimasa datang, sudah cukupkah dana kita untuk hari tua, dan sudah siapkah jika suatu saat kita membutuhkan dana kesehatan yang tidak sedikit?.

Saat ini ada sebuah program yang bisa jadi andalan kita dimasa yang akan datang, yaitu “PROGRAM TABUNGAN 5 TAHUN”. Jika selama ini kita menabung di berbagai macam Bank, namun terkadang tidak bisa menjadi tumpuan masa depan. Hal ini terjadi karena jika ada kebutuhan kita dengan mudah mengambilnya, baik melalui ATM ataupun langsung via teller, sehingga segala yang sudah kita rencanakan menjadi terkubur, karena dana habis belum pada waktunya.

Berbeda dengan PROGRAM TABUNGAN 5 TAHUN ini, melalui program ini kita bisa merencanakan masa depan dengan lebih baik, karena ini bersipat tabungan berjangka waktu. Artinya jika belum waktu jatuh tempo, maka tidak dengan mudah kita bisa menariknya. Namun bukan berarti tidak bisa ditarik.

Pada program ini, setiap nasabah diwajibkan menabung secara rutin (disiplin) selama 60 bulan atau 5 tahun, dengan minimal simpanan adalah Rp. 350.000,- per bulan. Setelah 5 tahun, maka nasabah sudah tidak ada lagi kewajiban untuk menabung, namun uang yang sudah disimpan tersebut terus dikembangkan oleh perusahaan, sehingga dananya akan terus berkembang. Selain itu, pada saat kita masuk menjadi nasabahnya, kita sudah langsung mendapatkan proteksi senilai 21.000.000,-.

Setelah 5 tahun, jika tabungan kita terus disimpan hingga tahun ke 10 saja, maka kita akan bisa memperoleh nilai tunai dari pengembangan dana tersebut bisa mencapai sekitar 60jt-an. Selain itu, jika kita terus mengembangkan tabungan ini, maka kita juga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi.

Iklan
By taufiq Posted in Umum

Puasa Sunnah di Bulan Rajab (2)

Oleh: DR. Ahmad Hairuddin Murtani Ph.D

4. Macam-macam Puasa Yang Telah Disyari’atkan.

Pembahasan ini sangat penting untuk kita ketahui bersama, karena semua jenis puasa yang penulis akan jelaskan dalam artikel ini masing-masing ada dalilnya. Sebelum itu, perlu kita ketahui bahwa puasa adalah suatu ibadah yang selalu diamalkan oleh para Nabi dan Rasul, ini sudah mejadi satu tradisi atau kebiasaan bagi mereka, jadi bukan hanya untuk umat Muhammad SAW bahkan umat-umat Nabi yang lain juga mengamalkan tersebut. Ada puasa yang wajib dan ada juga yang sunnah, Baik itu puasa di Bulan Ramadhan, Puasa qadha, puasa nazar, puasa pengganti bayar dam haji, puasa dua bulan berturut-turut sebagai denda bersetubuh di siang hari pada bulan Ramadhan, puasa tatawwu’ / sunah dan puasa-puasa lainnya.

a. Puasa Bulan Ramadhan (selama sebulan penuh).
Puasa Ramadhan adalah termasuk ke dalam salah satu rukun Islam, yang mana hukumnya adalah wajib. Puasa ini telah disyari’atkan pada tahun kedua Hijriyah. Firman Allah SWT :

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Surah Al-Baqarah : 183)

Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Islam itu didirikan ke atas lima perkara: I. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah (dua kalimah sahadat). 2. Mendirikan shalat, 3. Menunaikan zakat. 4.Menunaikan ibadah haji (bagi yang mampu), 5. Puasa bulan Ramadhan.” (HR: Imam Bukhari.)

b. Puasa Sunnah Sepanjang Tahun
Puasa sunnah itu menghasilkan pahala yang tidak sedikit, bahkan jika seorang itu rajin berpuasa maka dia akan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah SWT, puasa sepanjang tahun itu ada dua pendapat, pendapat pertama makruh (dibenci) oleh Allah SWT. Pendapat kedua membolehkannya dengan syarat dia tidak berpuasa pada hari lebaran Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Tasyriq, jika dia berpuasa pada hari lebaran dan hari Tasyriq, sudah jelas itu adalah diharamkan. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW: ya Rasulullah bagaimana jika seorang itu mengamalkan puasa sepanjang tahun? maka Rasulullah SAW menjawab: Dia seakan-akan tidak puasa dan tidak berbuka” (HR : Imam Tirmizi, dan Imam Muslim.) Maksudnya adalah sia-sia saja.
Pendapat yang membolehkan mereka menafsirkan hadits di atas, bahwa Rasulullah SAW dalam hadits tadi tidak mengecualikan hari-hari yang tidak berpuasa. Maksudnya jika seorang itu berpuasa sepanjang tahun tanpa ada istirahatnya atau tanpa mengecualikan hari lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Hari Tasyriq, maka makruh baginya berpuasa sepanjang tahun bahkan berpuasa dihari lebaran hukumnya haram. Tapi kalau dia tidak puasa pada hari lebaran Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Tasyriq maka dia bisa melakukan puasa sepanjang tahun. Ada sebagian ulama menamakan puasa ini adalah puasa Nabi Nuh as.

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: “Nabi Nuh as berpuasa sepanjang tahun kecuali pada hari lebaran idul Fitri dan Idul Adha, manakala Nabi Daud as berpuasa setengah tahun, dan nabi Ibrahim as berpuasa tiga hari setiap bulan, pahalanya sama seperti puasa sepanjang tahun, dan kesehatannya sama seakan-akan berbuka sepanjang tahun” (HR : Imam Suyuthi, Manakala Imam Al-Albani mendaifkan hadits ini, tapi tidak mengapa sekedar informasi saja.)

c. Puasa Sunnah Nabi Daud as.
Puasa ini akan menjadi 177 hari/tahun, lebih ringan dari puasa sepanjang tahun yaitu 355 hari (360 – 5 = 355) dikurangkan dari Idul Fitri satu hari, Idul Adha satu hari, dan hari Tasyriq tiga hari). Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “… Ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang puasa sehari dan buka sehari(selang seli), Rasulullah SAW menjawab: “itu adalah puasa saudaraku Daud as…”(HR: Imam Muslim, Abu Daud, Ibnu Hibban, At-Thobroni)

Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amru, Rasulullah SAW berkata kepadaku: Puasa yang paling disukai oleh Allah SWT adalah puasa Nabi Daud, beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari, manakala shalat yang paling disukai oleh Allah SWT adalah shalat Nabi Daud beliau tidur setengah malam dan shalat sepertiga malam kemudian tidur seperenamnya lagi” (HR : Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah)

d. Puasa Sunnah Hari Senin Dan Hari Kamis.
Puasa sunnah ini akan menjadi delapan hari perbulan, cukup istimewa dan sangat mulia di sisi Allah SWT. Tentang puasa hari Senin dikhususkan untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW, ini karena Baginda lahir pada hari Senin dan Baginda juga menjelaskan bahwa pada hari Senin juga semua amalan kita akan dipaparkan di hadapan Allah SWT, jadi Baginda lebih suka amalannya dipapar di hadapan Allah SWT dalam keadaan berpuasa, dan diantara objektif puasa hari Senin adalah untuk memperingati hari diutusnya Rasulullah SAW sebagai Nabi, dan hari pertama turunnya wahyu ke atas Baginda. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “… Ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang puasa hari Senin, baginda Rasulullah SAW menjawab: Itulah hari kelahiranku, dan itulah hari aku diutus sebagai Nabi, dan pada hari itu diturunkan wahyu kepadaku..” ( HR : Imam Muslim, Tirmizi, Ahmad, Abu Daud )

Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “… Ada seorang bertanya tentang puasa sunnah yang diamalkan oleh Rasulullah SAW selama dua hari. Rasulullah SAW bersabda: “Hari Senin dan hari Kamis. Pada dua hari tersebut amalan kita akan dipaparkan di hadapan Allah SWT, dan aku lebih suka ketika amalanku dipaparkan, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa” (HR : Imam Ahmad, Al-Munziri, Al-Albani, Al-‘Asqalani, Ibnu Baz)

e. Puasa Sunnah bulan Sya’ban.

Puasa sunnah bulan Sya’ban bisa dikatakan puasa mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan suci Ramadhan, baik itu diniatkan untuk menghapus segala dosa-dosa, mempersiapkan mental, kondisi badan, mensucikan jiwa dan lain sebagainya. Rasulullah SAW adakalanya berpuasa penuh pada bulan Sya’ban, dan adakalanya sebagiannya. Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Ada seorang sahabat bertanya kepada sayyidah ‘Aisyah ra tentang puasa Rasulullah SAW. Dia berkata: “Rasulullah saw dalam hidupnya selalu berpuasa, kadang-kadang aku melihatnya Baginda sedang berpuasa dan kadang-kadang Baginda sedang berbuka, dan aku tidak pernah melihat Baginda berpuasa sunnah dalam satu bulan penuh kecuali di bulan Sya’ban, kadang-kadang Baginda berpuasa penuh di bulan Sya’ban dan kadang-kadang sebagiannya” (HR : Imam Muslim)

f. Puasa sunnah di bulan Rajab.
Puasa sunnah Rajab inilah yang sering diributkan dan diperdebatkan di Negara kita, sebenarnya artikel yang penulis buat ini tujuannya untuk meredakan atau menenangkan suasana ibadah. Supaya ibadah kita berjalan lancar tanpa ada yang mengganggu gugat, dan tidak diributkan melalui media radio, tv, media sosial, dan lain sebagainya. Bulan Rajab adalah di antara bulan-bulan mulia di sisi Allah SWT bulan yang disunnahkan memperbanyak amal ibadah, bulan yang dilipatkangandakan pahala bagi yang berbuat baik, dan sebaliknya dosa-dosa juga akan dilipatgandakan jika seorang itu melakukan kejahatan, setiap kejahatan itu ada balasan dosanya, tetapi jika dilakukan pada bulan-bulan haram (Dinamakan bulan-bulan haram karena diharamkan adanya pertumpahan darah, pertengkaran, keributan dan segala bentuk kejahatan, Allah SWT jadikan bulan-bulan ini adalah bulan yang paling mulia di sisiNya) itu dosanya berlipat-lipat. Firman Allah SWT:

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram, Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu “ (Surah At-Taubah : 36)

Terdapat empat bulan yang mulia (haram), Rasulullah SAW telah merincikan empat bulan tersebut dalam sebuah hadits, yang diucapkan pada saat Baginda menunaikan haji wada’ (Haji perpisahan):

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya zaman atau waktu itu telah berputar mengikut kebiasaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dalam satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan tergolong dalam bulan-bulan yang haram, tiga bulan berderet yaitu Zulqe’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab (ikut perkiraan suku Mudhor) yaitu antara bulan Jumaditsani dan Sya’ban” ( HR : Imam Bukhari)

Ada yang mengatakan: Pada bulan Zulqo’dah orang-orang pada berdiam tidak melakukan peperangan. Pada bulan Zulhijjah orang-orang sibuk menunaikan ibadah haji. Pada bulan Muharram orang-orang pulang haji dalam keadaan selamat, aman, dan tentram. Ketika bulan Rajab orang-orang pada berkunjung ke Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah dan pulang dalam keadaan selamat, aman, sehat afiat, dan tenteram (Lihat tafsir Ibnu Katsir surah At-Taubah ayat 36) . Maka bulan-bulan haram itu sangat mulia dan tidak boleh ada pertengkaran, biarkan segala-galanya nyaman dan tenang, juga tentram dan damai. Firman Allah SWT:

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan (haram) adalah dosa besar” (Surah Al-Baqarah : 217)

Intinya bulan Rajab itu adalah bulan yang mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan pendekatan kita kepada Allah SWT dengan bermacam-macam bentuk ibadah termasuk puasa di bulan Rajab, agar tertanam sifat kesabaran dalam diri kita. Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “ Ada seorang tabi’i bertaya kepada Sai’d bin Jubair tentang puasa Rajab, dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab, dia berkata: “Saya telah mendengar dari Ibnu ‘Abbas ra, dia berkata: “Rasulullah saw selalu berpuasa (di bulan Rajab), Sehingga bisa dikatakan kadang-kadang kami melihat Baginda berpuasa dan kadang-kadang Baginda berbuka”(HR : Imam Muslim)

Dari hadits tersebut kita disunnahkan berpuasa di bulan Rajab semampu kita, mengikuti niat masing-masing dan kemampuan masing-masing. Baik sebulan penuh lima belas hari, tujuh hari atau satu hari. Karena bulan ini adalah bulan yang dianjurkan berbuat baik amal shaleh yang sebanyak-banyaknya.

g. Puasa sunnah tiga hari setiap bulan.
Subhanallah, berapa banyak Nabi kita berpuasa setiap bulan, puasa tiga hari ini telah diamalkan oleh Nabi Ibrahim as. Yaitu pada tiga hari yang pada malam harinya terang bulan. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Pahala puasa tiga hari sama dengan pahala puasa sepanjang tahun, yaitu pada hari terangnya bulan purnama, bermula pada subuh hari ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas” ( HR : Imam Al-Albani)

Rasulullah SAW juga sangat mementingkan puasa tiga hari ini, sehingga dalam keadaan musafir pun Baginda berpuasa.

Artinya: “Rasulullah SAW selalu berpuasa pada hari terang benderang bulan purnama, baik dalam keadaan hadir atau musapir (perjalanan jauh)” (HR : Imam Al-Albani, Imam Al-‘Aini)

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: “Nabi Nuh as berpuasa sepanjang tahun kecuali pada hari lebaran idul Fitri dan Idul Adha, manakala Nabi Daud as berpuasa setengah tahun, dan Nabi Ibrahim as berpuasa tiga hari setiap bulan, pahalanya sama seperti puasa sepanjang tahun, dan kesehatannya sama seakan-akan berbuka sepanjang tahun” (HR : Imam Suyuthi, Manakala Imam Al-Albani mendaifkan hadits ini, tapi tidak mengapa sekedar informasi saja)

Ada hadits, Rasulullah SAW berpuasa tiga hari setiap bulan pada hari Senin pertama, kemudian hari Kamis, dan Kamis yang berikutnya pada setiap bulan. Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Dari Hunaidah Al-Khuza’I ra, dia berkata: Pada suatu hari saya berkunjung ke rumah Ummul Mu’minin ra, Beliau berkata: Rasulullah SAW selalu berpuasa tiga hari setiap bulan, yaitu pada hari Senin yang pertama, kemudian hari Kamisnya, dan Kamis berikutnya pada setiap bulan” ( HR : an-Nasa’I, disahihkan oleh Imam Al-Albani)

h. Puasa sunnah di hari ‘Arafah (ketika jama’ah haji wuquf).
Bagi yang tidak berangkat haji atau tidak menunaikan haji disunnahkan berpuasa pada hari wuquf di ‘Arafah. Manakala para jama’ah haji yang sedang menunaikan haji tidak disunnahkan, karena para jama’h harus memfokuskan rukun haji yang paling utama yaitu wuquf di ‘Arafah, di samping kita harus menjaga stamina, tenaga, dan mental, karena perjalanan haji masih jauh dan lama. Pada hari ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah agar darjat kita diangkat oleh Allah SWT, pada hari ini juga umat Islam yang berada di
Mekkah sedang menunaikan rukun Islam yang kelima, kita dianjurkan untuk mendo’akan mereka agar semua para jamaah haji dalam keadaan sehat walafiat, supaya dapat menyempurnakan ibadah hajinya dengan penuh ikhlas dan penuh ketatatan kepada Allah SWT. Sebab jika kita mendo’akan orang-orang yang jauh dari kita dan tidak kelihatan di sekeliling kita, maka do’a tersebut akan cepat dikabulkan oleh Allah SWT, Sabda Rasulullah saw :

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Perkara yang penting dalam menunaikan haji adalah wuquf di ‘Arafah…” (HR : Imam Ibnu Majah, An-Nasa’I, Ibnu Mulqin, Al-‘Asqalani, As-Suyuti)

Bagi yang tidak menunaikan haji disunnahkan berpuasa, sabda Rasulullah saw :

Artinya: “Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa hari ‘Arafah (hari wuquf), Baginda menjawab: “Puasa hari ‘Arafah adalah menghapus segala dosa yang telah lalu dan yang akan datang” (HR : Imam Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad)

Artinya: “Dari Shofwan bin Abdillah ra dia berkata: aku telah pergi ke negeri Syam, lalu aku berkunjung ke rumah Abu Darda’ tetapi aku tidak menemuinya, lantas aku bertemu dengan ibunya, dia berkata: Apakah kamu mau pergi haji tahun ini? Sofwan menjawab: Ya betul. Sang ibu berkata: Berdo’alah untuk kami dan mohonlah kebaikan kepada Allah kebaikan untuk kami, sesungguhnya Rasulullah SAW selalu berkata: “do’a seorang muslim untuk saudaranya yang tidak kelihatan (yang jauh) adalah sangat mestajab (cepat dikabulkan), sesungguhnya di atas kepalanya ada malaikat yang mewakilinya, setiap kali dia berdo’a untuk saudarnya memohon kebaikan, maka malaikat yang mewakilinya itu mengucapkan “aamiiin” dan kamu akan dapat seperti itu, kemudian Sofwan berkata: lalu aku pergi ke pasar dan tiba-tiba aku bertemu Abu Darda’ ra, dia
berkata sama seperti itu, yang diriwayatkan dari Nabi SAW” (HR : Imam Muslim, Ibnu Majah, Al-Munziri)

Inilah akhlak orang-orang yang beriman, sebelum ke Tanah Suci Mekkah lebih afdhal dia mengunjungi para ulama untuk memohon do’a restu, dan mendo’akan satu sama lain. Kita juga ketika berpuasa pada tanggal 9 Zulhijjah dianjurkan mendo’akan para jama’ah haji, supaya ibadahnya tuntas dan sempurna. Pelajaran dari hadits ini bahwa mengaminkan do’a adalah sangat bagus seperti malaikat yang mengaminkan do’a hamba Allah dalam hadits di atas.

Artinya : “do’a seorang muslim untuk saudaranya yang tidak kelihatan (yang jauh) adalah sangat mestajab (cepat dikabulkan), sesungguhnya di atas kepalanya ada malaikat yang mewakilinya, setiap kali dia berdo’a untuk saudarnya memohon kebaikan, maka malaikat yang mewakilinya itu mengucapkan “aamiiin” dan kamu akan dapat seperti itu” (HR : Imam Ibnu Majah, As-Suyuti)

i. Puasa sunnah di hari ‘Asyura’
Yaitu berpuasa pada tanggal 10 Muharram, kita disunnahkan berpuasa di hari ini dengan diiringi dengan hari kesembilan di bulan Muharram, Tanggal 10 Muharram adalah tanggal yang mulia yaitu titik sejarah diselamatkannya Nabi Musa as dari ancaman Fir’aun. Sabda Rasulullah saw:

Artinya: “Ada seorang bertanya tentang puasa pada hari ‘Asyura’, Rasulullah SAW menjawab: “Puasa hari ‘Asyura’ menghapus dosa-dosa yang telah lalu”. (HR : Imam Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad)

j. Puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Harapan Rasulullah SAW kita semua bisa dan sanggup melaksanakan puasa sepanjang tahun, tetapi Baginda tidak mau membebankan umatnya, maka alternatifnya kalau kita tidak sanggup melaksankan puasa sepanjang tahun, sekurang-kurangnya kita dapat pahala puasa sepanjang tahun, yaitu dengan melakukan puasa sebanyak enam hari di bulan Syawwal. Jadi matematikanya ketika kita selesai menunaikan puasa 30 hari di bulan Ramadhan itu pahalanya sama seperti kita puasa 300 (tiga ratus hari) dan ditambah 6 hari bulan Syawaal, pahalanya sama dengan 60 (enam puluh) hari, jadi jumlah pahala yang kita raih sama dengan 360 hari, yakni seakan-akan kita telah melakukan puasa sepanjang tahun yang dinamakan dengan saumuddahri seperti puasa Nabi Nuh as. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Dari Abu Ayyub Al-Anshori, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka itu adalah sama seperti puasa sepanjang tahun” ( HR : Imam Tirmizi, Ibnu Hibban, Al-Haitsmi, Ibnu Mulqin, Al-Munziri)

j. Puasa sunnah pada hari Jum’at
Hari Jum’at adalah hari yang paling mulia di sisi Allah SWT di antara hari-hari dalam satu minggu. Dengan demikian kita disunnahkan berpuasa pada hari Jum’at dengan syarat diiringi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya, contoh kita berpuasa pada hari Kamis dan Jum’at atau Jum’at dan Sabtu. Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jum’at, kecuali jika diiringi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya” (HR : Imam Muslim, Abu Daud)

j. Puasa sunnah pada hari Sabtu dan Minggu (berbarengan).
Dua hari ini (Sabtu dan Minggu) di zaman Rasulullah SAW digunakan untuk lebaran orang-orang musyrik, maka Rasulullah SAW sengaja berpuasa pada dua hari ini untuk membedakan antara amalan meraka dan amalan kita, jadi alangkah baiknya jika seorang itu berpuasa pada dua hari tersebut. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya: “Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw selalu berpuasa pada hari Sabtu dan Minggu, lebih dari hari-hari yang lain, dan Baginda berkata: ”Dua hari tersebut adalah hari lebaran bagi orang-orang musyrikin, maka aku suka membedakan mereka dengan berpuasa” (HR : Imam Ahmad, Ibnu Hibban)

Puasa Sunnah di Bulan Rajab

Oleh: DR. Ahmad Hairuddin Murtani Ph.D

Ini adalah artikel yang membicarakan tentang amalan-amalan sunnah yang diperdebatkan di Negara kita, baik di masjid-masjid, di Media radio, di TV dan di media-media lainya. Padahal jika penulis lihat menurut kacamata sendiri, segala sesuatu yang diamalkan oleh ulama besar seperti ulama mazhab yang empat (Imam Abu Hanifah ra 80H-150H, Imam Malik ra 95H-179H, Imam Syafi’I ra 150H-204H, Imam Ahmad bin Hanbal ra 164H-241H) mereka sudah pasti mempunyai dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Namun terkadang kita ini terlalu dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak suka mengikuti ulama mazhab, mereka menganggap bahwa mereka sudah mengikuti aturan agama sesuai Al-Qur’an dan hadits, tetapi mereka tidak mencari hadits secara tuntas atau sengaja menyembunyikan hadits-hadits demi mencapai misinya yaitu agar semua umat mengikuti golongan mereka. Padahal jika kita rajin meneliti dan paham Bahasa Arab kita akan menemukan hadits-hadits tentang amalan yang dianggap orang-orang tersebut tidak ada di zaman Rasulullah SAW atau di zaman sahabat. Oleh karena itu, penulis akan mangajak para pembaca untuk menjejaki artikel-artikel ini agar tidak terlalu fanatik atau ekstrim terhadap amalan-amalan sunnah yang di anggap bid’ah, sekurang-kurangnya memberikan jalan kepada orang-orang yang ingin mengamalkan ajaran sunnah, yang dianggap oleh beberapa orang amalan itu tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Siapa pun orang yang ingin mengamalkan atau melakukan amalan sunnah tersebut yang sudah ada dalilnya maka dipersilahkan dan dibolehkan untuk mengamalkannya dan insyaallah akan berpahala, bagi yang tidak ingin melakukannya itupun tidak mengapa, asalkan jangan membid’ahkannya atau membuat hukum sendiri bahwa jika mengamalkannya akan masuk neraka, hal demikianlah yang akan menjadi dosa. Satu lagi yang kita harus perhatikan, yaitu tidak semua ulama Timur Tengah itu bisa diambil pendapatnya, karena banyak ulama-ulama yang lebih senior dari mereka yang harus kita ikuti. Ulama Timur Tengah yang berpegang kepada mazhab yang baru di luar mazhab yang empat yang diasaskan oleh Syekh Muhammad bin Abdul wahhab, beliau lahir pada tahun 1115H/1703M mereka sangat junior dan banyak ulama yang tidak sependapat dengan mazhabnya.

Penulis mencoba menulis yang terbaik, demi menenangkan situasi yang memanas di kalangan umat Islam di seluruh Indonesia. Artikel-artikel yang ditulis sudah bisa dijadikan buku untuk dijadikan pedoman baik untuk keluarga, kawan, maupun masyarakat sekitar.

1. Bibit-bibit Puasa/Asal Usul Ibadah Puasa.

Ibadah puasa yang sering kita lakukan adalah datang dari surga kemudian disyari’atkan oleh Allah SWT ke atas para Nabi dan RasulNya. Bibit amalan puasa dapat dibuktikan yaitu di saat Allah SWT memerintahkan Nabi Adam as dan Hawa untuk tinggal di surga, Firman Allah SWT :

Artinya: “Dan kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai” 1

Lalu ketika Nabi Adam as dan Hawa tinggal di surga mereka berdua telah menikmati segala kenikmatan dan keindahan alam surga yang Allah SWT telah berikan. Tetapi Allah SWT memerintahkan mereka untuk berpuasa sejenak agar tidak memakan makanan dari pohon dan buah yang telah ditentukan, untuk menguji keduanya. Firman Allah SWT:

Artinya: “Dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim” 2
Maksudnya: “Jangan kalian makan buahnya”. Maka larangan makan dari Allah SWT kepada Nabi Adam dan Hawa as itulah bermulanya bibit puasa yang berawal dari tempat yang tertinggi yaitu surga. Oleh karena itu Rasulullah SAW selalu mengajak kita untuk berpuasa agar kita masuk ke tempat asal bermulanya puasa yaitu ke surga yang penuh kenikmatan. Sabda Rasulullah saw :

Artinya: “Barang siapa menyebut “laa ilaaha illa allah” (bertahlil) ikhlas karena Allah dan mengakhiri hidupnya dengan ucapan tadi, niscaya dia akan masuk surga, dan barang siapa yang berpuasa pada suatu hari ikhlas karena Allah dan mengakhiri hidupnya dengan amalan tadi, niscaya dia akan masuk ke dalam surga, dan barang siapa yang bersedekah ikhlas karena Allah sampai akhir hidupnya disertai dengan amalan tadi, niscaya dia akan masuk ke dalam surga”3

Jadi puasa itu datangnya dari surga, dan bagi yang mengamalkan puasa akan masuk ke dalam surga, yaitu tempat asal mulanya puasa.

2. Definisi Puasa.

Dari segi bahasa, puasa itu adalah menahan, pantangan, tidak melakukan apa-apa, berdiam, tidak berbicara, dan lain-lain.
Firman Allah SWT :

Artinya: ” Maka makanlah dan minumlah serta bertenanglah hati. Kemudian kalau engkau melihat seorang manusia, maka katakanlah: `Sesungguhnya aku bernazar diam membisu kerana (Allah) Ar-Rahmaan (setelah aku menyatakan yang demikian) maka aku tidak akan berkata-kata kepada siapapun dari kalangan manusiapada hari ini`.” 4

Kata (Shoum) dalam ayat tadi maksudnya berdiam, membisu, pantangan untuk berbicara, dan tidak melakukan apa-apa.

Dari segi syara’ atau dari segi terminology agama, puasa adalah menahan diri atau nafsu pada siang hari dari berbuka (makanan, minuman, bersetubuh) dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan berpuasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Firman Allah SWT:

Artinya: “Dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib)” 5

3. Puasa Dulu Dan Puasa Sekarang.

Puasa yang kita lakukan sekarang sudah melalui proses peringanan yaitu dari subuh sampai maghrib, sama seperti shalat lima waktu, sudah melalui proses peringanan yang awalnya 50 waktu dalam sehari semalam telah menjdai 5 waktu. Dahulu di zaman Rasulullah SAW sebelum turun ayat keringanan puasa, umat Islam berpuasa di zaman Rasulullah SAW seperti puasa umat Nasrani (Ahlul Kitab), puasa itu ada kaitan yang ketat dengan tidur, jadi tidur itu masuk dalam hukum puasa, contohnya jika seorang berpuasa kemudian tertidur sebelum maghrib kemudian bangun setelah isya, maka dia tidak dapat berbuka (makan, minum, bersetubuh) hingga tiba waktu maghrib di hari berikutnya. Jadi saat tiba waktu maghrib jangan sekali-kali tidur karena itu akan menjadi dosa besar pada waktu itu. Artinya siapa pun yang tertidur dia terpaksa menjalani puasa 22-24 jam dan bisa lebih dari itu. Ini menunjukkan bahwa waktu berbuka hanya dari jam 18:00 (waktu maghrib) hingga jam 19:15 (waktu Isya). Jadi hanya dapat makan dan minum atau bersetubuh dari waktu maghrib hingga isya, hal ini terlalu berat di kerjakan serta menyusahkan umat Islam pada waktu itu dengan syarat tidak tidur sebelum magrib dan batas waktu berbuka hanya sampai waktu shalat isya. Sehingga terjadi perkara-perkara yang membatalkan berbuka dan membatalkan puasa yaitu seperti tidak sanggup menahan nafsu syahwat atau tidak tahan ngantuk di kalangan para sahabat termasuk Sayyidina Umar bin Khattab, 6 sampai terjadi perkara yang tidak diinginkan pada malam hari, termasuk bersetubuh atau bergaul dengan isteri pada malam hari setelah waktu isya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thobari, Rasulullah SAW bersabda :

Artinya: “Puasa itu telah diwajibkan ke atas orang-orang Nasrani (Ahlul Kitab) dan diwajibkan agar tidak makan dan minum dan bersetubuh setelah mereka tidur. Lalu diwajibkan ke atas orang Islam seperti itu…” 7

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas ra, Sesungguhnya sebelum ayat Al-Qur’an tentang puasa diturunkan, mereka pada waktu itu makan, minum, dan dihalalkan bersetubuh. Dan jika salah seorang di antara mereka tidur pada waktu berbuka, maka dia tidak dapat makan, minum, dan bergaul dengan isterinya, sampai tiba waktu berbuka di hari berikutnya. Sesungguhnya telah berlaku ke atas Sayyidina Umar ra, setelah dia bangun dari tidur pada malam hari, sedangkan puasa sudah jatuh wajib baginya, lalu dia bergaul dengan isterinya, kemudian dia bercerita kepada Rasulullah SAW, dan dia berkata: Wahai Rasulullah, aku mengadu kepada Allah dan kepadamu tentang apa yang terjadi pada diriku. Rasulullah SAW bertanya: Apakah yang telah engkau lakukan? Aku telah melakukan sesuatu yang buruk yang aku pandang perbuatan itu adalah baik bagiku, aku telah bersetubuh dengan isteriku setelah aku tertidur, sedangkan aku ingin melanjutkan puasa pada malam hari. Maka Allah SWT turunkan ayat: 8 “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari di bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu (surah Al-Baqarah: 187)” 9

Bayangkan jika ayat tadi tidak turun, maka Rasulullah SAW akan menghadapi sebuah dilema, sebab yang melakukan persetubuhan di waktu berpuasa adalah beberapa orang sahabat yang dekat dengan Rasul yaitu di antaranya adalah Sayyidina Umar. Tetapi dengan kuasa Allah SWT beserta kehendaknya, maka Allah SWT memberikan keringanan kepada Sayyidina Umar bin Khattab beserta para sahabat yang lainnya dan sekaligus keringanan untuk kita semua. Setelah itu para sahabat Nabi bersorak dan bergembira tatkala ayat itu turun yang mana ayat tersebut memberi keringanan kepada para sahabat dan umat Islam pada umumnya yang sekarang tersebar diseluruh dunia. Rasulullah SAW tidak akan membuat keputusan kecuali jika ada perintah dari Allah yang di sampaikan oleh Malaikat jibril sebagai perantara wahyu yang akan memperingatinya dan mengajarkannya. Subhanallah. Firman Allah SWT:

Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat”. 10

Ada perkara yang aneh yang berlaku di zaman Rasulullah SAW terkait dengan ibadah puasa yang sangat menyusahkan sebelum ayat keringanan itu diturunkan, ketika ayat yang meringankan di waktu puasa diturunkan sedikit demi sedikit. Firman Allah SWT :

Artinya: “Dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih dari benang hitam” 11

Umat Islam pada waktu itu masing-masing mencari benang hitam dan benang putih, ada yang mengikat benang putih di kaki kanan dan benang hitam di kaki kiri, jadi akan berbuka puasa mereka melihat benang tersebut dikakinya terlebih dahulu, barulah mereka makan dan minum, seperti sekarang di beberapa tempat di Negara kita, tidak bisa buka kecuali jika sudah mendengar pukulan beduk, di mekkah pada tahun 1977-1990 mereka berbuka menunggu suara meriam, di zaman Nabi dahulu ada juga yang meletakan dua benang warna tersebut di bawah bantal, jadi sebelum berbuka puasa, terlebih dahulu dia melihat benang yang ada di bawah bantal barulah bisa berbuka, kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kejadian tersebut, lalu Allah SWT turunkan ayat berikutnya yaitu yang dimaksud dengan benang hitam dan putih adalah cahaya sinar subuh. Tapi ini sangat bagus untuk umat manusia agar benar-benar menghayati kejadian-kejadian penting dalam syari’at Allah SWT. Mungkin para sahabat menjadikan kejadian ini untuk bahan cerita yang memberi kesan positif untuk kita semua. Dan mungkin mereka di zaman Nabi masing-masing bertanya satu sama lain “oh iya kamu bagaimana saat ayat turun?” “dan kamu pula bagaimana?” “wah si fulan melakukan ini dan itu”, “si fulan juga letak benag di bawah bantal, dan ada yang meletakannya di kaki” dan lain-lain. Begitulah kira-kira, jadi kita bersyukur sekarang tinggal melaksanakan puasa saja tidak perlu bimbang karena ulama sudah membahasnya dengan detil hukum-hukum puasa.

Setelah itu Allah SWT melanjutkan ayat seterusnya yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan benang hitam dan benang putih tadi. Firman Allah SWT :

Artinya: “benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib)” 12

Semua itu disebut dalam hadits berikut:

Artinya: “Dari Sahal bin Sa’ad berkata: Telah diturunkan ayat “Dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih dari benang hitam” dan belum diturunkan ayat “Cahaya siang” pada waktu itu orang-orang laki jika ingin menunaikan puasa, mereka mengikat benang hitam dan benang putih pada kakinya, lalu mereka melanjutkan makannya sehingga mereka bisa melihat dua warna benang tersebut, kemudian Allah menurunkan ayat Cahaya siang”, setelah itu mereka baru tau yang dimaksud benang hitam dan benang putih adalah siang dan malam” 13

Artinya: “Dari ‘Adiy bin Hatim ra, dia berkata: Ketika diturunkan ayat ini “sehingga nyata kepada kamu benang putih dari benang hitam” dia berpegang kepada dua tali yang berwarna hitam dan tali yang berwarna putih, lalu aku letakan di bawah bantal kemudian aku lihat pada waktu malam maka tidak jelas. lalu pada pagi harinya aku bertemu Rasulullah SAW untuk menanyakan perkara tersebut, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan benang hitam itu adalah gelap malam, dan yang dimaksud dengan benang putih adalah siang hari” 14

Setelah kejadian tadi maka Allah SWT dan Rasulullah SAW telah menyempurnakan hukum-hukum puasa seperti yang kita lakukan sekarang.

Footnote

  1. Surah Al-Baqarah : 35.
  2. Surah Al-Baqarah : 35.
  3. HR : Imam Ahmad, Al-Haitsami, Al-Albani, Al-Munziri.
  4. Surah Maryam : 26
  5. Surah Al-Baqarah : 187.
  6. Tafsir Ibnu Katisir, jilid 1, h209, surah Al-Baqarah ayat 187, sebab turunnya ayat membolehkan bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan.
  7. HR : Imam At-Thobari.
  8. HR : Imam Al-‘Asqalani.
  9. Tafsir Ibnu Katisir, jilid 1, h209, surah Al-Baqarah ayat 187, sebab turunnya ayat membolehkan bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan
  10. Surah An-Najm : 2-4.
  11. Surah Al-Baqarah : 187.
  12. Surah Al-Baqarah : 187.

Bersambung …….

Belajar Menulis Bersama Ahmad Fuadi

Disaat suasana libur telah tiba, disaat awal tahun 2014 tinggal hitungan jam, ternyata masih ada guru-guru hebat yang  mau belajar. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta dan  Bekasi saja, melainkan dari berbagai wilayah di Indonesia ini. Memang tidak banyak guru yang mau dan rela berkorban tenaga, pikiran bahkan biaya sendiri, demi mengikuti kegiatan Teacher Writing Camp 3 (TWC 3) di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Peserta TWC 3 ini ada yang datang dari Surabaya, Kalimantan Selatan, Lampung Selatan, Depok, Cianjur, Bogor, Majalengka dan lain sebagainya. Mereka rela datang ke Jakarta demi mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara menulis dan menghasilkan tulisan yang mampu menarik perhatian pembaca.

Pemateri yang dihadirkan pada kegiatan TWC 3 ini adalah : pada sesi I ; ada Pa Sukani, Pa Rudy Hilkya dan Bu Siti Mugi Rahayu (Para jawara Guraru), ketiganya berbagi mengenai bagaimana mereka mulai menulis hingga akhirnya memenangkan berbagai macam lomba menulis, yang salah satunya adalah juara GURARU. Sedangkan pada sesi II ada Ahmad Fuadi penulis buku “Negeri 5 Menara”, ia berbagai kepada seluruh pesererta menganai bagaimana ia mampu melahirkan buku yang menjadi best seller, serta menjadi rujukan di beberapa negara. Pada sesi ini, peserta TWC 3 sangat antusias menerima materi ini, kebanyakan dari mereka terus menggali dan mencari tahu trik-trik yang dilakukan Ahmad Fuadi dalam menghasilkan bukunya tersebut.

Pada sesi III ada Iskandar Zulkarnain, pemateri yang satu ini adalah memfokuskan materinya pada pengalaman penulisan di media cetak dan media sosial, peserta diajak bagaimana cara menulis di media soaial ataupun blog. Ia menyampaikan rambu-rambu yang harus di mengerti pada saat menggunakan media sosial atau juga blog.

Sedangkan untuk sesi IV di hari pertama ada Dhitta Puti Sarasvati, ia adalah salah seorang pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI). Ia mendapatkan materi bagaimana menulis opini tentang film. Pada materi ini, peserta diajak menyaksikan sebuah tayangan film, lalu seluruh peserta diminta untuk menyampaikan opininya dalam sebuah tulisan. Setelah sesi ini selesai, berakhir pula kegiatan TWC 3 untuk hari pertama.

Seteleh selesai kegiatan hari pertama, sebahgian peserta kembali ke rumah masing-masing, sementara yang berasal dari luar kota dan luar Jawa mereka bermalam di Wisma UNJ.

Mengatasi Flashdisk Tidak Terdeteksi di Windows

Pada mulanya saya sedang ke MI. Attaqwa 04 Ujungharapan untuk menanyakan perihal kartu pelajar yang pernah saya tawarkan ke Kepala Sekolah. Setelah bicara banyak mengenai kartu pelajar tersebut dan deal, tiba-tiba Kepala Sekolah menyodorkan saya sebuah flashdisk baru 4 GB, menurut beliau flashdisk tersebut tidak bisa terdeteksi.

Setelah saya menerima flashdisk tersebut, saya mencobanya mencolokkan ke notebook saya, dan memang benar flashdisk itu tidak terdeteksi di notebook saya. Sesampainya saya di rumah, saya mencobanya lagi di laptop tapi juga tidak terdeteksi.

Akhirnya saya mencoba searching di google, lalu menemukan artikel yang mengupas masalah tersebut. Adapun solusinya adalah sebagai berikut :

1. Klik “Start”

2. Pilih “Computer / My Computer” lalu “klik kanan”

USB 1

3. Pilih ” Manage”

USB 2

4. Muncul kotak dialog Berikut :

USB 3

5. Lalu klik “Disk Management”

USB 4

6. Setelah Muncul

USB 5

pilih storage yang masih remopable disk dengan ukuran 3,76 GB. Berarti ini sebenarnya Flashdisk masih terdeteksi windows. Selanjutnya pastikan bahwa status Disk ini “Online”. Jika statusnya “Offline” silahkan klik kanan dan pilih menu Online.

Jika statusnya sudah online, tetapi disk ini tidak terdeteksi di Windows Explorer, maka klik kanan dan pilih menu “Change Drive Letter and Path”. Setelah terbuka dan masih kosong, klik saja tombol “Add” untuk menambahkan huruf yang akan menjadi Drive yang bisa di akses di Windows Explorer. Kita juga bisa mengubah drive letter ini ketika drive USB ini sudah digunakan oleh perangkat yang lainnya, sehingga ada konflik nama drive yang digunakan.

Akhirnya dengan cara tersebut, USB Flashdisk saya bisa kembali terdeteksi di Windows Explorer dan bisa digunakan kembali. Semoga tips ini bermanfaat dan membantu ketika mengalami hal sama.

Puasa Ramadhan & Hiruk-pikuk Pusat Perbelanjaan

Hari ini adalah merupakan hari yang ke 19 di bulan Ramadhan, hari ini terasa berbeda jika dibandingkan hari-hari sebelumnya, hari ini begitu ramai, meriah, dan begitu semarak. disana-sini terlihat orang berlalu-lalang, hilir-mudik, dari satu sudut ke sudut yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain.

Keramaian hari ini juga tambah meriah dengan suara-suara yang menawarkan berbagai macam discount dari berbagai macam produk, mulai dari pakaian, barang elektronik hingga makanan, semuanya ramai dengan pengunjung. Keramaian kali ini diikuti oleh orang tua hingga anak-anak, semuanya terlihat gembira.

Dalam keramaian hari ini yang masih dalam suasana ramadhan menjadi tantangan tersendiri buat para kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasanya, bagaimana tidak? disaat mereka yang sedang berpuasa berjuang melawan hawa nafsu dari segala macam kenikmatan duniawi, ada banyak orang yang justru sedang menikmatinya dengan tanpa merasa malu dan risih.

Hari ini MEGA BEKASI HYPERMALL terlihat begitu ramai pengunjungnya, dan salah satu pengunjungnya adalah saya. Keberadaan saya ditempat ini adalah dalam rangka menjalankan tugas kantor untuk melakukan sosialisasi terhadap program-program asuransi yang ada di kantor tempat saya bekerja.

Puasa adalah merupakan Ibadah, begitu pula bekerja adalah merupakan ibadah, sehingga ibadah saya hari ini mendapat tantangan yang jauh lebih besar jika dibandingkan hari-hari sebelumnya.Tantangan yang saya dapatkan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan hari ini adalah; berada ditengah keramaian pusat perbelanjaan.

Ditengah-tengah ramainya pengunjung, saya membagikan beberapa lembar brosur, ada yang menerima dan ada pula yang menolak, sehingga kesabaran saya diuji. Ditengah keramaian itu pula ada yang sedang menikmati makan dan minum di beberapa tempat, sehingga keimanan saya diuji.

Bahkan tidak hanya sampai disitu keimanan saya diuji, karena ada yang jauh lebih menggoda dan terkadang tanpa disadari itu terlihat dan diperlihatkan, yaitu para kaum hawa yang mengenakan busana minim dan ketat, sehingga membuat keimanan ini dipertaruhkan.

Memang menjalankan puasa ditengah pusat perbelanjaan jauh lebih menantang jika dibandingkan kita hanya berdiam diri dirumah saja. Aneka macam tingkah-laku yang menggoda banyak kita dapatkan ditengah pusat perbelanjaan sehingga benar-benar menguji keimanan. Karena disini kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu dari kenikmatan makanan yang merajalela, kita juga harus mampu mengendalikan hawa nafsu dari penglihatan yang ada di sekeliling kita,

Ini adalah pengalaman yang menarik, sekaligus menantang dan menguji keimanan kita, yaitu BERPUASA DITENGAH HIRUK-PIKUK PUSAT PERBELANJAAN, semoga saya dapat melewatinya dengan baik, dan semoga puasa saya tidak hanya mendapatkan lapar dan haus saja dari puasa hari ini, karena sesungguhnya puasa itu untuk Allah dan Dia-lah yang akan membalasnya.

Amin ya Rabbal ‘Alamiin.

ADA PUNGLI

Beberapa waktu yang lalu saya mengurus Surat Keterangan Usaha ke Kelurahan, lalu saya dimaintai surat keterangan Domisili Usaha, padahal saya sudah mengurus, tapi karena surat yang lama ada di Pertamina, saya diminta untuk membuat baru, saat  itu saya dimintai administrasi yang berbelit-belit, akhirnya saya minta tolong ke paman saya yang kebetulan salah seorang RT.

Akhirnya melalui RT tersebut saya dibantu dan tentunya dengan dana yang di minta. Lalu dikesempatan yang lain saya mengurus surat Domisili Organisasi, karena saya sudah malas berhubungan dengan pihak kelurahan, akhirny saya minta tolong lagi kepada paman saya yang RT tersebut. Lalu dari pak RT saya dapat kabar, pihak kelurahan minta Rp. 300.000,- untuk surat domisili tersebut.

Setelah surat domisili saya terima, lalu saya pergi ke Kantor Kecamatan untuk tanda tangan surat keterangan domisili itu, dan disana saya diminta administrasinya yaitu Rp. 50.000,- jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang diminta pihak kelurahan. Beberapa waktu yang lalu, pak Dahli juga berniat mengurus surat domisili, lagi-lagi urusannya berbelit-belit.

Hari ini Senin 6 Mei 2013, saya kembali berhubungan dengan pihak kelurahan karena ada berkas dari PERTAMINA yang harus ditandatangani pihak kelurahan, setelah saya menghadap lagi-lagi saya ditanyai surat domisili, dan saya bilang surat itu sudah saya serahkan ke PERTAMINA, lalu saya diminta kembali lagi esok hari dengan membawa surat keterangan dari RT dan membawa administrasi untuk tanda tangan tersebut sebesar Rp. 300.000,-.

Apakah ini bentuk pelayanan yang diberikan aparat pemerintahan kepada warganya, haruskah surat menyurat (keterangan) selalu mengeluarkan dana Rp. 300.000,-. Apa jadinya negeri ini?

By taufiq Posted in Umum

Uji Coba UASBN

Pelaksanaan kegiatan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) sudah semakin dekat, hari saya melakukan uji coba pelaksanaan UASBN bagi siswa kelas VI A untuk bidang studi matematika, waktu yang disediakan 90 menit untuk menjawab 40 soal.

Dari kegiatan yang saya lakukan ini, saya berharap siswa dapat terbiasa dengan soal-soal UASBN yang sesungguhnya. Oleh karenanya siswa saya berikan beberapa kali uji coba UASBN, sehingga akan dapat diketahui seberapa siapkah siswa untuk menghadapi UASBN nanti yang akan dilaksanakan pada bulain Mei 2013.

Sejak pertama kali saya berikan soal-soal uji coba, memang terlihat ada perubahan dari soal uji coba pertama hingga saat ini sudah soal yang ke lima, hasilnya terus meningkat. Saya menargetkan kepada siswa untuk bidang studi matematika ini siswa harus memperoleh soal benar sebanyak minimal 28 dari 40 soal yang tersedia, sehingga siswa minimal akan memperoleh nilai minimal 7,00.

Untuk uji coba kali ini, siswa yang masih mendapat nilai dibawah 7,00 ada sebanyak 12 orang artinya sudah dibawah 50%, sedangkan sisanya sudah mendapat nilai diatas itu, bahkan sudah ada siswa yang mendapat soal benar hingga 38 nomor. Dengan demikian saya harus ekstra keras agar siswa waktu yang tersedia dapat saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya, hingga 12 siswa yang masih belum memperoleh nilai minimal ini dapat mengejar ketertinggalan mereka.

Hal ini mudah-mudahan dapat saya capai, karena dari 12 siswa tersebut nilai benar yang mereka peroleh adalah antara 25 sampai 27 soal yang benar dari target minimal 28 soal yang harus mereka peroleh. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada saya. Amiiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

OUTING CLASS

Belajar tidak selalu monoton di dalam kelas, belajar adalah bagaimana kita memberikan pengetahuan kepada siswa dimana saja dan kapan saja. Selain itu belajar secara langsung dengan sesuatu yang berkaitan pada materi pelajaran akan dapat lebih mudah dipahami oleh para siswa. Inilah yang melatar belakangi kegiatan outing class di MI. Attaqwa 15 Babelan.

Kali ini kami melakukan kegiatan outing class ke PUSPA IPTEK di Kota Baru Parahyangan dan Waduk Jatiluhur Purwakarta. Sebanyak 60 orang siswa kelas 6 ikut serta dalam kegiatan tersebut, mereka begitu antusias dengan pelaksanaan kegiatan itu. Pada outing class kali ini ikut serta kepala madrasah dan juga guru kelas 6 sebagai pendamping.

100_2847

Baca lebih lanjut

Tragedi 12/12/12

Semenjak hari Senin kondisi tubuh terasa tidak sehat, kepala teras pusing, perut mual-mual, kondisi sangat lemah, dan akhirnya saya harus ke dokter dengan di bonceng sepeda motor oleh adik ku Ahmad Mujahid.

Setelah beberapa saat diperiksa (diagnosa) beberapa saat oleh dokter, lalu saya diberikan resep dan segeralah saya menuju ke apotek untuk menyerahkan resep tersebut tak berapa lama obatpun saya terima, setelah itu saya kembali ke rumah.

Baca lebih lanjut